INDRAMAYU MP - Petani garam lokal yang tergabung dalam Aliansi Petani Garam Kecamatan Krangkeng mendatangi gedung DPRD Kabupaten Indramayu yang diterima oleh Ketua Komisi II, Dalam,SH.,KN, Wakil Ketua Komisi II Anggi Nofiah, anggota Dullah, Hj Siti Aminah, Hj Kursiah, Hj Wardah sedangkan perwakilan dari Diskanla, Edi Umaedi, Perwakilan dari Diskopdagin, Yahya, serta sejumlah staff Setwan, di ruang sidang utama gedung DPRD Indramayu. 07/07/2020


Petani garam mengadu kepada wakil rakyat, bahwa usahanya terancam gulung tikar, dimana harga garam hasil panen harganya turun drastis.

Ketua Aliansi Petani Garam Kecamatan Krangkeng, Hasyim Asyari mengatakan, harga garam lokal saat ini sudah mencapai titik terendah sejak Tahun 2017 lalu.

Dari semula harga garam lokal perkilo Rp 4.000,00 kini di tahun 2020 hanya dihargai perkilonya antara Rp 150,00 hingga Rp 400,00. Sedangkan biaya produksi garam masih terbilang tinggi dan setiap kali panen garam terbebani lagi dengan biaya angkut dari lokasi tambak ke gudang tempat penyimpanan garam.


Saat ini para petani garam khususnya di Kecamatan Krangkeng menjerit karena harga garam terus menurun. Bahkan ironisnya lagi selain harga garam murah, pembayaran penjualannya pun telat hingga satu bulan berikutnya.

"Untuk itu kedatangan kami di gedung DPRD menemui wakil rakyat meminta bantuan solusi agar harga garam lokal kembali stabil,“ kata Hasyim.

Ketua Komisi II DPRD Indramayu, Dalam,SH.,KN., dalam pertemuan ini meminta kepada para petani garam untuk terus aktif berkomunikasi dengan Diskanla dan Diskopdagin.
Dengan adanya komunikasi, permasalahan harga garam yang turun drastis ini bisa dicarikan solusinya, termasuk berupaya mencegah garam impor masuk wilayah Indramayu demi stabilisasi harga garam lokal.

“Sepertinya para petani garam ini mesti lebih mengintensifkan lagi komunikasi dengan pihak Diskanla dan Diskopdagin terutama komunikasi tentang upaya mendongkrak kembali harga garam lokal dipasaran, syukur-syukur ada program Pemerintah yang bisa membuat petani garam sejahtera,” kata Dalam.

Sementara itu perwakilan dari Diskanla, Edi Umaedi mengatakan, luas lahan tambak garam di Kabupaten Indramayu sekira 2.700 hektar, dari semula menghasilkan garam 60 ribu ton per hektare permusim, kini sudah mencapai 130 ribu ton per hektare per musim dan stok garam di gudang garam kini sudah mencapai 183 ribu ton.

Meski demikian, kata Edi, pembinaan terhadap petani garam tetap dilakukan pihak Diskanla. Di antaranya melalui program integrasi garam yakni kepemilikan lahan tambak garam minimal dua orang dan luas lahan minimal 15 hektare.

Selain itu pihak Diskanla juga menerapkan program pemberdayaan usaha garam rakyat (PUGAR), dalam program ini kelompok petani garam akan mendapat paket bantuan dari Pemerintah yang diantaranya bantuan alat pengolah garam krosok menjadi garam meja. TIM MP


Komisi